Loading...

Kamis, 19 Agustus 2010

bijaksana

Tahukah engkau orang yg menjadikan hawa-nafsunya sebagai Tuhannya? Apakah engkau dapat menjadi pemelihara atasnya? Ataukah engkau menyangka kebanyakan mereka itu dapat mendengar dan memahami. Mereka itu seperti ternak bahkan lbh sesat jalan hidupnya.” . Kalau memeluk agama sama dgn kebodohan tentu Anda lbh menyukai hidup tanpa agama. Kalau agama itu sama dgn beban yg memberatkan jiwa atau cenderung kepada kehinaan dan kenistaanatau sama dgn gejolak rasialisme tentu Anda lbh menyukai hidup tanpa agama! Tetapi agama bukanlah seperti itu semua bahkan menentang semuanya itu. Orang-orang ateis demikian buruknya mencampuradukkan antara kebenaran yg diturunkan Allah dan kebatilan yg dibuat oleh manusia atas dorongan nafsunya kemudian menganggapnya sebagai agama. Orang yg mengetengahkan suatu kebatilan sebagai agama adl pendusta dan mengmgkari apa yg diketengahkannya itu berarti hukumnya wajib. Manusia dalam zaman kita sekarang ini terbagi-bagi dalam beberapa golongan yg berlainan. Di antara mereka ada yg mengingkari ketuhanan dan membayangkan bahwa alam semesta ini tidak diciptakan oleh Tuhan. Ada pula yg mengakui ketuhanan secara tidak jelas dan menganggap semua agama besar adl sama dalam hal metode ajarannya ataupun nilainya. Ada juga yg memeluk agama Yahudi atau Nasrani dan tidak bemiat meninggalkan dua agama itu selama-lamanya. Selain itu ada pula yg menganut paganisme yg tak mau tahu kepada agama lain dan ada juga yg memeluk agama Islamrela dan puas bertuhan hanya kepada Allah rela dan puas menerima Islam sebagai agama serta mengakui Muhammad saw sebagai nabi dan rasul. Di kalangan kaum muslim terdapat orang-orang yg berpikir kacau yaitu mereka yg hidup menurut apa saja yg mereka warisi dari nenek moyang. Berbagai macam sunah berbagai macam bid’ahpengetahuan kebodohan petunjuk yg benar dan hawa nafsu-semuanya dicampur aduk. Di antara mereka itu terdapat pula para da’i yg menyerukan kebenaran sebagaimana yg pada zaman dahulu dilaksanakan oleh kaum salaf terkernuka. Dalam perjalanan sejarah sedikit demi sedikit mereka makin terpencil dan pada zaman kita sekarang ini mereka amat sedikit jumlahnya. Kesulitan yg dialami oleh para da’i sebenarnya datang dari gambaran tentang penampilan Islam di dunia Islam. Gambaran itu membuat orang yg lurus di negeri-negeri lain menjauhkan din dari Islam. Seumpama di suatu negeri Islam yg merdeka orang dapat membantah pemerintahannya tanpa rasa takut atau dapat menentang pendapat kepala negaranya tanpa perasaan cemas sebagaimana pada zamandahulu dilakukan oleh kaum muslim terhadap dua orang khalifahnya Abu Bakar Shiddiq dan ‘Umar ibn Khaththab. Seandainya penguasa negeri itu berkata kepada seseorang “Hai engkau harus memelukagama Tauhid krn itulah agama yg benar” kemudian jika orang itu menjawab “Tidak” ia lalu diancam hendak dibuang atau dipancung kepalanya. Apakah Anda mengira bahwa orang itu benar-benar memeluk Islam? Tidak sama sekali tidak! Apakah yg menarik hati orang itu sehingga ia memeluk suatu agama yg penguasanya dapat berbuat menghancurkan kota dan mengubur 30.000 sosok mayat di bawah reruntuhan puing-puing? Setelah itu sang penguasa lalu menjadi orang yg “berwibawa” “terjaga keamanannya” dan “diagung-agungkan” melalui berbagai sarana penerangan dan media massa baik yg dekat maupun yg jauh jangkauannya? Orang itu sesungguhnya tetap kafir ia tidak rela masuk ke dalam lingkungan mengerikan itu. Lantas siapakah yg harus bertanggung jawab atas terjadinya peristiwa seperti itu? Tentu para politikus zalim yg tidak menghayati agama dan sibuk memfitnah Islam melalui kekuasaan yg ada pada mereka. Di sana terdapat pula orang-orang yg sibuk dgn pelbagai macam “ilmu agama” yg menggambarkanagama Islam sebagai penjara dan membuat kaum wanita menjadi bodoh. Mereka sibuk membuat peraturan-peraturan yg menonjolkan kelemahan kaum wanita seolah-olah kaum wanita merupakan sejenis manusia yg boleh diperkosa hak-haknya; boleh direndahkan kedudukannya; boleh diremehkan akal pikirannya; dan kehadirannya di lapangan ilmu pengetahuan peribadatan dan perjuangan dipandang aneh bahkan mengemudikan mobil pun dicela. Tidaklah mengherankan kalau agama Islam digambarkan demikian itu sehingga menyebabkan kaum wanita di timur maupun baratenggan memeluknya. Mereka tentu berpikir bahwa menghindari agama adl lbh baik! Pikiran mereka yg demikian itu pasti didukung oleh beribu-ribu kaum pria. Fitnah yg dilakukan orang terhadap agama Islam dgn cara seperti itu benar-benar sangat memprihatinkan. Saya teringat sebuah cerita di kalangan orang-orang Badui yg mengatakan “Pada suatu hari ada orang yg menawarkan untanya di pasar dgn harga satu dirham tetapi dgn syarat tali kekangnya pun harus dibeli juga dgn harga 10.000 dirham.” Orang-orang yg mendengar penawaran itu pun berkata “Seumpama tidak ada tali yg terkutuk itu alangkah murah harga untanya.” Memang benar alangkah mudahnya memeluk agama Islam seumpama tidak ada orang-orang yg menyebar berbagai macam fitnah! Sekarang kami bertanya “Apakah seorang ateis yg mengingkari Tuhan dan tidak percaya bahwa kelak ia akan dihadapkan kepada-Nya dapat menjadi orang yg lurus dan bijaksana?” Kami jawab bahwamakhluk yg demikian itu sungguh-sungguh tidak sehat penglihatan mata hatinya dan perilakunya. Sikapnya yg ingkar tethadap Tuhannya jauh lbh jahat daripada sikap seorang anak yg berani melawan ayah-bundanya yg penuh kasih-sayang. Orang itu mungkin saja berilmu pengetahuan akan tetapi hal itu tidak menghilangkan kerendahan budinya. Di masa lalu Amerika Serikat pernah menjatuhkan hukuman mati terhadap seorang ilmuwan nuklir yg menyerahkan rahasia-rahasia tugas pekerjaannya kepada Rusia. Oleh pemerintah Amerika Serikat ia dipandang sebagai pelaku kejahatan besar krn telah mengkhianati tanah air dan bangsanya. Apakah tanah air itu? la adl sekeping bumi. Apakah bangsa itu? la adl sekelompok manusia. Bagaimanakah orang yg mengkhianati Tuhan Penguasa bumi dan langit serta Penguasa seluruh umat manusia? Apakah ia tidak dianggap berbuat kejahatan? Kebesaran yg dimiliki seseorang tidak dapat menangkal penyakit berbahaya yg menimpanya. Ada kalanya seorang yg mempunyai pandangan tajam diserang penyakit kanker yg menyebabkan kematiannya. Kekuatan dan ketajaman pandangannya temyata tidak berguna utk menolak penyakitnya yg parah. Demikian pula orang yg mengingkari Tuhan dan menolak agama-Nya. Betapa pun tinggi ilmunya di bidang tertentu ia adl orang yg tidak sehat jiwanya tidak lurus jalan pikirannya dan patut dikhawatirkan tingkah-lakunya. Bahkan sesungguhnya ia lbh dekat kepada hewan daripada manusia. Pengabdiannya kepada hawa nafsu membuatnya selalu pesimis terhadap dirinya sendiri dan orang-orang yg di dekatnya. Allah menghukumnya dalam kehidupan dunia; dan menjadikan kecerdasannya sebagai musuhnya sendiri; dan menggali liang kuburnya dgn tangannya sendiri. Firman Allah dalam Alquran al-Karim melukiskan orang-orang yg hidup mengabdi hawa-nafsunya menolak hidayah Ilahi dan tidak mengharapkan inayah dan rahmah-Nya sebagai berikut “Tahukah engkau orang yg menjadikan hawa-nafsunya sebagai Tuhannya? Apakah engkau dapat menjadi pemelihara atasnya? Ataukah engkau menyangka kebanyakan mereka itu dapat mendengar dan memahami. Mereka itu seperti ternak bahkan lbh sesat jalan hidupnya.” . Anda tentu melihat bahwa di berbagai negeri Arab terdapat banyak orang yg condong kepada sekularisme. Mereka berusaha keras menyingkirkan pengaruh Islam dari lapangan pendidikan perundang-undangan kebudayaan dan pengarahan. Cobalah Anda perhatikan sungguh-sungguh bagaimana wajah mereka dan kegiatan mereka. Anda tidak akan dapat melihat adanya tanda-tanda yg menunjukkan bahwa mereka itu berjiwa sehat danberpikir cermat. Di antara mereka itu terdapat orang-orang yg mengaku “muslim” tetapi tidak menyukai ketentuan yg telah diturunkan oleh Allah. Di antara mereka itu ada pula para ahli kitabyang menggabungkan diri dgn tiap kekuatan yg memusuhi Islam utk memperoleh banyak pengikut di kalangan kaum awam dan sekaligus utk melampiaskan kedengkiannya. Sekalipun demikian mereka pura-pura memperlihatkan sikap tak berpihak! Orang-orang seperti itu tidak mungkin dapat disebut manusia yg lurus dan bijaksana. Sebab kalau benar-benar mereka mempunyaikesadaran rasonal yg semumi-murninya tentu mereka tahu bahwa Isra’il mempersenjatai din dgn akidah yg agresif dan politik yg memperalat agama utk merampas tanah air bangsa lain dan menginjak-injak kehormatannya. Bagaimanakah orang dapat menerima agama yg agresif juga membenarkan garis politiknya dan menghormati kekuasaannya? Mereka malah menolak agama yg membela tanah air bahkan menganggap kehadirannya di lapangan pendidikan utk memperkuat ketahanan nasional sebagai politik kolot yg harus dijauhkan. Persoalannya adl krn di sini agama Islam dan di sana agama Yahudi! Bukanlah soal politik dalam agama kalau Islam berjuangmembela tanah air. Negara-negara Arab pasti akan ambruk jika zionisme dibiarkan merajalela apalagi kalau politik negara-negara itu memandang zionisme sebagai hikmah dan kemajuan! Bukanlah nalar sehat dan bukan pula suatu kebijakan jika orang menolak kenabian Muhammad saw atau membenci manusia besar itu dan menyerangnya. Kita tentu tertawa geli bila mendengar ada orang yg berpendapat bahwa bumi ini berbentuk segitiga atau segiempat atau bila mendengar ada orang yg mengatakan bahwa Nabi Musa as itu lahir di Amerika Serikat. Bagaimana kita tidak tertawa kalau kita mendengar orang mengatakan Budha itu tuhan sedangkan Muhammad saw adl penyamun?! Bagaimana kita tidak tertawa geli jika ada orang yg berpendapat bahwa Islam itu agama penyembah berhala yg menginjak-injak kehormatan manusia atau tidak mengerti bahwa Islam itu agama tauhid dan agama yg suci?! Kalau orang yg demikian itu bukan pura-pura tidak tahu ia pasti orang pandir dan orang pandir tidak mungkin dapat disebut lurus dan bijaksana. Ada kalanya kepandiran dapat dijadikan alasan utk membebaskan orang dan tanggung jawab moral pada saat ia bertindak menyalahi ketentuanhukum. Tetapi kepandiran tidak akan dapat dijadikan dalih utk membagus-baguskan orang yg bersangkutan. Ada sementara orang Yahudi yg percaya bahwa Tuhan bergulat dgn Israil hingga nyarisjatuh tersungkur di hadapannya. Sementara itu orang-orang Nasrani percaya bahwa seorang bayi lahir dalam keadaan menanggung laknat dosa kesalahan yg dilakukan oleh Adam dan jika orang tidak percaya bahwa Isa as mati di kayu salib utk menebus dosa manusia maka orang yg tidak percaya itulah yg terkena kutukan abadi! Orang boleh mempunyai kepercayaan apa saja tetapi janganlah ia melampaui batas lingkungan dan kedudukannya sendiri dan jangan pula mendusta-dustakan seorang nabi dan rasul yg datang untukmenjemihkan agama-agama Tuhan dan pencemaran dan menegur manusia yg lari meninggalkan kebenaran Allah dgn menyampaikan firman-Nya “Ataukah belum pernah diberitakan kepadanya apa yg terdapat di dalam kitab suci kepada Musa dan kitab suci kepada lbrahim orang yg selalu menepati janji? Yaitu bahwasanya orang yg berdosa tidak memikul dosa orang lain dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yg telah diusahakannya dan bahwa usahanya itu kelak akan diperlihatkan kemudian ia akan diberi balasan yg sepadan.” . Ayat-ayat suci tersebut di atas ibarat dentang suara lonceng yg membangkitkan perasaan takut dan menggugah kesadaran utk berhati-hati dan selalu ingat. Atau ibarat rambu-rambu yg harus diindahkan orang yg melintasi berbagai persimpangan jalan agar dapat sampai ke arah yg dituju dan tidak tersesat. Tidak mengenal Islam adl suatu kekurangan yg amat fatal dan orang tidak akan dapat menyempumakan dirinya kecuali dgn Islam. Bagaimana orang dapat membersihkan din jika ia tidak merasa butuh kepada taufik dan hidayah llahi kepada janji pahala dan hukuman siksa-Nya; dan bagaimana pula kalau hatinya tidak pemah sedetik pun merasa tunduk kepada-Nya dan tidak juga pemah berucap “Ya Allah ampunilah kesalahanku pada hari Kebangkitan kelak?” Sumber Al-Ghazali Menjawab Muhammad al-Ghazali Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar